Untuk Bapak…


Pagi Terlihat cerah ketika mata terbuka untuk mengawali hari ini, matahari masih jauh di ufuk timur, tertutup pohon yang saling terkait seakan hendak menghalangi matahari untuk menyinari, Perlahan embun mulai mengering diatas dedauan, menguap seiring munculnya matahari yang sudah melewati lebatnya dahan dan tingginya pepohonan.

Bising mulai terdengar suara mesin diesel di samping rumah ketika bapak mulai memanaskan mesin traktor tua Bantuan Bupati sebagai penghargaan sebagai petani teladan beberapa tahun yang lalu, terlihat kusam dan berkarat di sebagian sisinya, sama seperti bapak yang kian terlihat tua dengan tanda keriput didahinya. Bergegas aku kedapur menghampiri ibu yang sibuk memasak “masak apa mak?” masih dengan rasa kantuk yang terus menggelayut dimataku, “masak sayur Gori, hari ini yang kerja banyak jadi masak sayur gori biar banyak” bergegas aku cuci muka yang kusut sedari tadi mencoba kembali ke rutinitas kehidupan yang sebenarnya, membantu ibu memasak di dapur seperti anak perempuan yang hendak mempersiapkan diri untuk mengarungi bahtera rumah tangga suatu hari nanti. Tapi kenyataannya aku adalah anak lelaki, anak lelaki tanpa ada kesan anak perempuan sama sekali.

Mungkin dikampung ini hanya aku anak lelaki yang berkutat didapur membantu ibu memasak menyiapkan makanan untuk orang-orang yang bekerja pada bapakku untuk mengolah sawah dimusim tanam ini, ya saat  anak lelaki lainnya berjalan gagah dengan sebuah cangkul di pundak dan sebuah sabit tajam yang terselip di pinggang, aku, anak lelaki yang  masih berkutat dengan alat masak di dapur bersama ibu, membantu ibu memasak, bukan maksudku untuk menghindari pekerjaan lelaki yang biasa bergumul dengan lumpur Dari pagi sampai sore hari yang sudah menjadi budaya di kampungku, tapi karena ibu yang sudah terlalu tua untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang sepertinya sederhana tapi sangat menguras tenaga.

Masakan telah matang tercium aroma sayur gori bersantan menusuk hidung mengundang rasa lapar tanpa pengecualian, dengan cekatan ibu menyiapkan makan pagi yang dibungkus kain persegi empat dengan motif batik di sisi-sisiya khas tapak meja yang biasa dipakai di rumah-rumah tetangga maupun dirumahku.

Makanan sudah siap sudah saatnya aku mengantarkan makanan ini kesawah pasti bapak dan pekerja lain sudah lapar menunggu sarapan yag tak kunjung datang, tak lupa ibu berpesan padaku, “Pelan-pelan saja jalannya nak, awas itu sayurnya nanti kuahnya bisa tumpah kalau tidak sejajar”, “iyo Mak” jawabku sekenanya karena ini sudah menjadi aktifitasku setiap pagi, mengirim nasi kesawah pagi hari untuk bapakku dan pekerja lainnya.

Mulai berjalan kakiku menyusuri pematang sawah yang menjadi pembatas antara petak satu dengan petak lainnya dari kejauhan terlihat bapak berkutat dengan mesin traktor tuanya, berjalan berputar menyusuri petakan sawah, roda traktor dari besi yang terlihat gagah perkasa mencabik-cabik lumpur dan membalikkannya menjadikan tanah hitam menjadi  sawah tempat kami menanam rezeki, padi yang berharap dapat dipanen suatu hari nanti.

Terlihat senyum para pekerja saat menyadari kehadiranku, karena seiring datangnya diriku juga merupakan pertanda bahwa waktu sarapan sudah tiba, sudah menjadi budaya dikampungku bahwa sarapan itu setelah bekerja bukan sarapan itu sebelum bekerja.

Matahari mulai meninggi menunjukan bahwa waktu menjelang tengah hari, kugantikan bapak menjalankan traktor mesin pembajak tanah yang semakin terlihat kotor penuh dengan lumpur, aku bisa mengusai mesin ini meski tak selihai bapakku yang menjalankannya setiap hari.

Hari semakin panas kuputuskan menghentikan pekerjaan ini, mematikan mesin dan meninggalkannya ditepian pematang sawah, kuhampiri bapak yang sedari tadi meperhatikanku Dari tepian sawah Dari tanah kering yang sedikit lebar dibanding pematang sawah, tanpa gubuk maupun alas.

Duduk aku disamping bapak menyambar bekal air minum yang dibawa bapak kesawah pagi tadi, tanpa gelas langsung kutengadahkan kepala, dengan mulut yang ternganga mengalir air melewati tenggorokan hampir tersengal karena menahan nafas demi memuaskan dahaga yang seakan menguasai jiwa. Bapak hanya tersenyum melihatku, sesekali memandang luasnya sawah sambil mengernyitkan dahinya menahan panas matahari yang semakin menjadi. Akupun tak berbeda dengan bapak, memperbaiki posisi topi untuk menghindari mataku berinteraksi langsung dengan matahari.

Dalam termenung tiba-tiba bapak menatapku, dengan tatapan pengharapan melihat anak bungsunya yang kini beranjak remaja, terucap jelas kata-kata yang keluar dari bibirnya..

Le kamu nanti sekolah yang tinggi, jangan kaya bapak, lihat, setiap tahun seperti ini, bekerja ditengah panas, capek. Kamu anak laki-laki suatu saat nanti menjadi pemimpin, yang bertanggung jawab, yang akan menafkahi anak istrimu, siapkan dirimu, siapkan mentalmu” jegeeeeer,!!!! seperti petir disiang bolong ditengah terik tanpa ada  angin tanpa ada hujan, teringat semua akan kelakuanku selama ini, betapa tidak menghargai orang tuaku selama ini, betapa tidak bertanggung jawabnya aku selama ini, Menyia-nyiakan kepercayaan orang tuaku yang mengizinkan aku sekolah jauh dari rumah tanpa pengawasan hanya bermodal kepercayaan.

Teringat ketika aku sering bolos sekolah hanya karena malas dengan mata pelajaran yang kubenci, ketika aku lebih memilih berkumpul bersama teman dibanding kesekolah hampir tiap hari, teringat bagaimana kecewanya bapak ketika membuka surat pengumuman bahwa aku tidak lulus ketika acara kelulusan SMP Kemarin, rasanya tercabik hati ini, terbalik berputar seperti digilas roda traktor yang berputar dalam hati ini.

Aku hanya mampu mengangguk menatap muka bapak yang sesekali menetes keringat di dahinya, mungkin bapak sudah tidak merasakan tetesan keringat itu karena terlalu sering keringat itu melewati dahinya.

Itulah Moment awal semangatku, aku yang harus berhenti melanjutkan sekolah ke jenjang SMA karena harus mengulang ujian karena tidak lulus ujian nasional, mengumpulkan kembali semangat belajar yang terburai karena pergaulan, menjadikan cambuk pada diri saat pandangan skeptis orang-orang yang berfikir “saat seseorang berhenti maka ia malas melanjutkan lagi”,

mencoba untuk memperbaiki diri dan membuktikan bahwa aku bisa membuat bangga orang tuaku, orang tua yang selalu ada dibelakangku, selalu memberi contoh dengan tindakannya dan semangatnya bekerja tanpa harus banyak berkata-kata,

Kutempuh pendidikan SMA di sebuah Madrasah Aliyah dan lulus dengan embel-embel umur 19 tahun yang katanya cukup tua untuk lulusan tingkat SMA, Melanjutkan ke Jenjang perguruan tinggi hanya sampai D3 karena ingin segera bekerja dan Berkeluarga, dan lulus tanpa predikat Cumlaude di Ijazahnya, dan saat ini bekerja pada salah satu perusahaan BUMN di Indonesia.

Terima kasih Bapak atas nasehatmu yang telah menuntun hidupku tak tersesat dalam Kerasnya dunia mendampingi dengan doa-doamu setiap hari sampai aku temukan cita-citaku kini, tak pernah terbersit dikepalaku untuk malu karena pekerjaanmu sebagai petani. Aku bangga padamu karena bapak adalah pahlawanku, Inspirasiku.

Posting ini diikutsertakan pada Give Away Perdana Dellafirayama, seorang ibu labil yang tidak suka warna Hitam dan Hijau.. 🙂

Iklan

10 comments on “Untuk Bapak…

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog Pribadi saya, Silakan Tinggalkan Komentar anda.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s